Sepahit Jamu dan Semanis Madu

Beberapa waktu lalu berdiskusi dengan seorang teman dan bercerita tentang beberapa pengusaha yang sedang terlilit masalah, dari obrolan tersebut memberikan inspirasi kepada saya untuk menuangkan ‘modal usaha’ dalam sebuah tulisan ini. Ketika sudah menemukan ide untuk memulai usaha akan muncul beberapa pertanyaan-pertanyaan, dimulai dari mana, modal berapa, modal darimana dan bagaimana memulainya. Apapun jawabannya yang jelas jurus pertama menuangkan ide usaha ya dengan memulainya sesegera mungkin karena jika ditunda-tunda justru akan semakin banyak pertimbangan dan pertimbangan tersebut terkadang akan melemahkan ditambah lagi dengan kondisi saat ini dan kondisi esok selalu mengalami perubahan dan perkembangan. Jika sudah ada kesempatan dan kemampuan untuk merealisasikan ide maka segera lakukan jika tidak, ada beberapa kemungkinan-kemungkinan kesempatan akan menguap dan hilang begitu saja sedangkan kemampuan akan melemah sehingga lengkap sudah kondisi ini menjadi alasan untuk tidak merealisasikan ide menjadi kenyataan dan impian sukses juga akan lenyap begitu saja dan menjadi lagu abadi sepanjang masanya Koes Plus..”Kapan..Kapan…”

Berkatian dengan modal, cukup populer beberapa waktu lalu trend usaha tanpa modal, ada yang mengartikan positif, menjadi tindakan positif dan hasilnya juga positif, tetapi ada juga yang yang mendefinisikan dan mewujudkan negatif akhirnya menjadi negatif dan bahkan menjadi momok permasalahan yang serius ibarat penyakit kronis dan harus masuk ICU. Bagi yang menafsirkan positif bisa mengarah ke bisnis-bisnis yang memang tanpa modal beneran misalnya jadi broker, menjualkan produk orang lain, bermitra dengan yang punya modal dll, sedangkan yang negatif yang penting dapat uang untuk usaha entah gimana caranya bisa mendapatkan pinjaman sebanyak-banyaknya perkara mengembalikan itu urusan belakangan, perkara jenis usaha juga belakangan yang penting dapat pinjaman dulu, begitu setelah dapat pinjaman bukannya untuk buka usaha atau mengatur strategi sebagian untuk mengembangkan usaha sebagian untuk cadangan ketika usaha bermasalah tapi malah justru uang hasil pinjaman tersebut dihambur-hamburkan untuk bersenang-senang saja mulai beli kendaraan, rumah mewah, penampilan dllnya begitu tiba waktunya angsuran harus dibayarkan dan game over ternyata dana yang akan digunakan untuk membayar angsuran sudah ludes dan akhirnya berujung pusing bukan kepalang hidupnya tak karuan, kesana-kemari minta tolong sama siapapun yang ditemuinya kepada mahluk yang terlihat dan bahkan terkadang kepada mahluk yang tidak terlihat hadeuh!! Padahal pelarian yang paling tepat hanya lari mengadu untuk memohon ampun dan mohon jalan keluar hanya kepada-Nya. Beberapa pendapat berkaitan dengan hal ini ada yang menilai sebagai ujian dan ada juga yang menilai sebagai sanksi dari-Nya.

Adapun berkaitan dengan modal hutang, dalam penggunaannya dapat dialokasikan untuk memulai usaha atau mengembangkan usaha yang sudah berjalan. Ada beberapa pendapat yang mengatakan seperti ini, Pendapat pertama: Memang sudah jelas ada dasarnya bahwa orang yang mempunyai tanggungan (hutang) itu membuat hidup menjadi tidak tenang dan was-was, maka di upayakan dengan cara tidak berhutang. Pendapat Kedua: Sah-sah saja berhutang jika kondisi usaha sudah berjalan lancar dan memang membutuhkan suntikan dana untuk mengembangkan usahanya (maksud baik dan kondisi usaha baik). Pendapat Ketiga: bagaimana mau maju dan mau punya usaha jika berhutang saja tidak mempunyai keberanian dengan pertimbangan merem (menutup mata) apapun kondisinya dan kemampuannya tetap pinjam slogannya hidup pinjam!, pendapat keempat: pinjam harus berani, karena jika tidak berani ya tidak maju! karena dengan memiliki tanggungan ada motivasi yang kuat untuk bekerja secara maksimal untuk bisa segera menyelesaikan pinjaman dan usaha menjadi lebih maju tentunya dengan pertimbangan tidak menutup mata, pendapat kelima: apapun keputusannya tergantung niat, jika niat baik, fikiran baik dan tindakan baik insya allah jalannya baik dan hasilnya juga baik. Pendapat keenam: status LARANGAN jika sudah pinjam yang harus dihindari menganut madhab jika bisa ditunda kenapa di segerakan, jika bisa tidak dibayar kenapa harus dibayar tuh hutang atau minta ya minta.. pinjam ya minta..!, nach ini dia slogan yang harus dhindari dan dibuang jauh-jauh agar cerita entrepreneur yang baik akan mengangkat citra entrepreneur di dunia ini menjadi jauh lebih baik dan menjadi suatu profesi yang mulia.

Jika ingin aman dan resiko kecil, apapun usahanya jika bisa dengan tidak hutang kalau bisa ya jangan menggunakan modal hutang, kalaupun tidak punya modal bisa dengan cara-cara lain yang memang tidak hutang seperti yang disebutkan diatas bermitra dan sebagainya. Atau kalaupun hutang menurut beberapa pakar dengan catatan ‘jumlah asset lebih besar dibandingkan dengan jumlah kewajiban perusahaan’ dengan kondisi usaha sehat wal’afiat dalam arti kata sehat secara lahir ataupun batin. Apapun pendapatnya jika langkah yang diambil sebagai salah satu sarana untuk beribadah kepada-Nya, tentunya harus yakin Allah tidak akan tinggal diam kepada hambanya yang berusaha secara maksimal. Disamping itu agar tanggungan tidak menjadi was-was maka niatkan untuk ibadah maka hati akan menjadi tenang, dengan tenang maka allah akan menyertai setiap langkah yang diniatkan untuk ibadah kepada-Nya.

Bagaimana jika perusahaan sedang tidak sehat, berarti butuh suntikan dana untuk menyehatkan perusahaan? Berhutang bisa jadi solusi tapi berhutang bisa jadi bunuh diri, karena hal ini butuh penanganan khusus jika perusahaan sudah terjangkit penyakit kronis. Yang jelas pilihannya berhenti atau jalan terus dengan butuh suntikan dana dan suntikan pemikiran. Jika berhenti dijual kemudian bikin usaha baru, sedangkan jika jalan bisa dengan cara bermitra dengan orang lain (perorangan) yang mempunyai dana dan kemampuan untuk menyehatkan atau bergabung dengan orang lain (perusahaan) sejenis dengan kondisi lebih bagus untuk melangsungkan usaha agar tetap berjalan. Jika jelas-jelas usaha tidak bisa diselamatkan dengan cara apapun ya sudah ganti usaha baru anggap saja semua yang sudah dikeluarkan tenaga, fikiran, uang dan waktu sebagai biaya sekolah dan pastikan akan naik kelas!. Pilihan-pilihan tersebut diperlukan pertimbangan secara matang dan spiritual, untuk itu jika kondisi ini menjangkit pada usaha kita carilah guru yang memang ahli dibidangnya untuk melakukan pendampingan, motivasi dan pertimbangan solusi selebihnya keputusan ada ditangan kita masing-masing.

Karena pada dasarnya perusahaan apapun bentuknya seperti halnya tubuh manusia kadang sehat, kadang sakit, kadang bahagia, kadang susah dan berbagai kondisi-kondisi lainnya. Salah satu tanda tubuh kita normal secara lahiriah yaitu masih ada detak jantung dan aliran darah terus mengalir (arus uang lancar), sedangkan secara batiniah bahwa proses ibadah kepada-Nya terus berjalan. Adapun kondisi-kondisi lain agar hidup tetap sehat jadikan masa pahit sebagai jamu yang menyehatkan dan jadikan masa manis sebagai madu yang juga menyehatkan, begitupun dengan usaha yang kita jalani apapun kondisinya jadikan keduanya sebagai pemahit dan pemanis kehidupan agar usaha kita tetap sehat wal’afiat. Dan masa apapun yang sedang dijalani dengan kreatifitas campur aja tuch jamu dan madu akhirnya jadi jamu yang enak dan menyehatkan jangan lupa campurkan telornya biar mantapz heuheu. Ingin tahu apa itu sepahit jamu dan semanis madu, masuklah ke dunia entrepreneur.

Salam SukYess!!

@FatoniJakri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s